img0138a1

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN

UNTUK ANAK CERDAS-ISTIMEWA

PENDAHULUAN

Masih ingat dengan novel yang berjudul Laskar Pelangi? novel best seller yang ditulis oleh Andrea Hirata. sebuah kisah novel yang cukup menarik perhatian kita saat ini. Bukan hanya cerita, tetapi juga banyak pesan yang dibawa. Apalagi saat diangkat dalam layar lebar disutradarai oleh Riri Riza, dan mendapat perhatian cukup banyak dari kaum muda. Salah satunya adalah pendidikan di Indonesia. Potret sebuah sekolah yang sederhana, jauh dari kemewahan dan Ukiran prestasi yang bergengsi, tapi pendidikan yang tercermin bukan hanya memberikan ilmu pengetahuan saja, melainkan sebuah perilaku dan etika, sehingga tumbuh sebuah kreatifitas yang bukan karena fasilitas.

Saat ini sebagian orang tua memimpikan investasi manusia pada pendidikan untuk masa depan anaknya. Biar jadi pengusaha, dokter, atau semua yang secara sosial terpandang dan mempunyai harkat dan martabat secara financial. Ada yang lebih mendasar di tawarkan dalam laskar pelangi ini, yaitu Budi pekerti. Negara ini mungkin lupa, atau terpesona akan pendidikan metoda luar (barat), sehingga tidak diliriknya pendidikan yang telah di rintis pendahulu kita, Seperti Ki Hadjar Dewantara, Kyai Haji Ahmad Dahlan. Dalam karya mereka terbentuklah Taman Siswa, Muhammadiyah. Beliau-beliau ini telah mencoba merintis pendidikan yang mengajarkan akan budaya timur, sepert budi pekerti, etika, sopan santun pada anak bangsa negeri ini.

Saat ini tidak jarang kita temui siswa yang pandai, tetapi tidak punya tata krama dan etika, atau malah di tidak tahu sopan santun. Meskipun hal ini bukan hanya tugas dari sekolah, untuk memberikan bekal bagi anak kita, tetapi juga peran keluarga diperlukan dalam hal ini. Waluapun saat ini jumlah keluarga yang menanamkan pendidikan Budi Pekerti sudah mulai “tidak sempat”, sehingga melimpahkan semua ke sekolah. Sedangkan sekolah juga di tuntut tidak hanya mendidik dan mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga untuk menjadikan sekolah sebagai sekolah favorit, yang diharapkan akan menunjang keberlangsungan dan kesejahteraan Sekolah. Bila kita sedikit saja melirik pendidikan di Jepang, dimana pendidikan tidak hanya dapat menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga tetap di berikan pendidikan budi pekerti dan pengetahuan budaya mereka. Sehingga mereka tetap mencintai dan juga mengerti asal mereka dengan budaya nenek moyangnya.

Pendidikan tidak hanya mengedepankan kecerdasan Intelektual tetapi juga Kecerdasan Moral, Spiritual dan Emosional. Terkadang kita ataupun orang tua beragapan kecerdasan yang maksud adalah kemampuan anak dalam berhitung, mengahafal, meniru, pandai dalam membuat analisa yang dibuktikan pada prestasi di sekolah. Meskipun pemahaman ini tidak salah, namun juga kurang lengkap. Cerdas yang dimaksud adalah kemampuan anak dalam mengorganisir dengan baik aspek Intelektual, Emosional, Moral dan Spiritual.

Kecerdasan Intelektual, merupakan kemampuan seseorang secara efektif untuk melakukan perhitungan matematis, menganalisa, mengingat, dan beragumen. Sehingga pada umumnya, sang anak akan berhasil menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan baik.

Kecerdasan Emosional, merupakan kemampuan seseorang untuk mengelola dan memanfaatkan perasaan dengan baik. Seperti memahami orang lain, kemandirian, kerjasama, menyesuaikan diri dan berpikir positif. Tentunya hal ini dipengaruhi juga oleh kepribadian yang sehat.

Kecerdasan Moral, merupakan kemampuan seseorang yang peka dan mampu menentukan baik dan buruk. Seperti kejujuran, kerelaan menolong, kesetiakawanan, kepedulianan, kesederhanaan dan adil.

Kecerdasan Spiritual, merupakan kemampuan seseorang untuk dapat mengembangkan nilai-nilai yang mulya, seperti: kasih, kebenaran, ketaquan, ketaatan, pelayanan, pengabdian dan pengorbanan. Jadi kecerdasan Spiritual bukan saja ketaatan dalam menjalankan hukum-hukum agama, tetapi juga nilai dan sikap hidup dalam agama yang tulus dan mulia.

Jadi pendidikan untuk anak bangsa ini, bukan hanya dikarenakan oleh Sekolah saja, tetapi peran orang tua, keluarga, masyarakat dan Negara. Cerdas yang bagaimana yang akan kita bekali kepada generasi akan datang, akan juga menentukan nasib keluarga, dan juga negara.

Prof Dr Daniel Golleman, bapak managemen modern di Amerika meneliti orang-orang yang berhasil dan melaporkan hasil surveynya: “Mereka yang sukses dan berhasil, bukan mereka yang waktu sekolah memiliki nilai rapor bagus tetapi mereka yang aktif organisasi, banyak bergaul dan temannya banyak. IQ hanya mempengaruhi 20% keberhasilan sedangkan EQ & ESQ 80%”. Jika kita lihat bagaimana kurikulum pendidikan di Indonesia sejak orde lama, orde baru sampai sekarang sudahkan memberikan peluang untuk anak-anak cerdas?. Oleh karena nya tulisan ini mencoba mengembangkan kurikulum untuk anak-anak cerdas, dan membuat anak – anak indonesia menjadi cerdas.

ANAK CERDAS ISTIMEWA (Teori Giftedness)

Adanya teori bagaimana pendidikan yang dapat diberikan kepada keragaman bentuk anak cerdas istimewa, dan menyangkut bagaimana pendeteksian dan pendiagnosisan, assessment, menangani berbagai permasalahan yang dimiliki dan dihadapi oleh individu cerdas istimewa ( gifted ) tersebut (faktor eksternal dan faktor internal ), serta pengasuhannya di rumah yang dapat diharapkan berlangsung secara simultan dengan pendidikannya di sekolah. Artinya diperlukan berbagai teori pendukung yang dapat memberikan pemahaman yang baik bagaimana tumbuh kembangnya, personalitasnya dan keunggulan seorang individu cerdas istimewa. Teori pendukung itu dapat digunakan dalam upaya memberikannya berbagai layanan yang dibutuhkannya secara menyeluruh (baik kearah kesulitan/kelemahannya maupun keunggulannya). Karena itu dibutuhkan berbagai teori pendukung yang mampu menunjukkan berkecerdasan istimewa (giftedness) sebagai konsep multifaktor dan dinamis dan yang mampu memberikan arahan kepada pendeteksian terhadap berbagai sinyal-sinyal seorang individu cerdas istimewa, dan pendiagnosisannya.

Kecerdasan Istimewa (giftedness) sebagai konsep multifactor dan dinamis. Bila dahulu konsep giftedness hanyalah merupakan konsep dari perkembangan kognitif saja (sebagai single factor), namun konsep itu kini sudah jauh berubah. Selain konsep berkecerdasan istimewa (giftedness) yang merupakan konsep multifactor (inteligensia, motivasi, kreatifitas, dan lingkungan), Mooij (1992); Mönks & Ypenburg (1995) menambahkan lagi karakteristik giftedness dengan konsep bahwa giftedness sebagai konsep dinamis. Giftedness sebagai konsep dinamis ini menyangkut pada perkembangan anak-anak cerdas istimewa yang dari hari ke hari dan tahun ke tahun mengalami perkembangan khusus yang dinamis, yang berbeda dengan anak-anak kelompok lain atau dengan kelompok sebayanya. Sinyal-sinyal individu cerdas istimewa dapat dideteksi melalui (Hogeveen, 2004):

  1. sinyal tumbuh kembang
  2. sinyal personalitas
  3. sinyal berkecerdasan istimewa atau sinyal intelektualitas

A. Ciri Perkembangan anak cerdas istimewa

1. Disinkroni.

Penggunaan kata-kata disinkroni (dyssynchronie) pertama kali digunakan oleh Jean- Charles Terrasier dari Perancis dalam bukunya ” Les enfants surdoués ou la précocité embarrassante” (the exceptionally gifted children or the embarrassing precocity) tahun 1970. Jean-Charles Terrasier mengambil pengertian disinkronitas perkembangan pada anak-anak gifted ini dari teori yang dikeluarkan oleh seorang psikiater Polandia terkenal bernama Kazimierz Dabrowski yaitu The Theory of Positive Disintegration tahun 1960. Dalam teorinya itu Dabrowski menjelaskan tentang perkembangan yang overexcitibility berbagai aspek tumbuh kembang individu gifted, yang meliputi aspek: psikomotor, sensual, intelektual, imajinasi, dan emosi (de Hoop & Janson, 1999; Webb dkk, 2005). Disinkronitas perkembangan dapat menyangkut perkembangan antar individu cerdas istimewa dengan sebayanya (eksternal disinkronitas), tetapi juga dapat menyangkut perkembangan antar berbagai aspek tumbuh kembang si anak itu sendiri (internal disinkronitas).

2. Asinkroni

Linda Kreger Silverman lebih banyak menggunakan istilah Asynchronous development (perkembangan asinkroni) daripada perkembangan yang disinkroni sebagaimana yang digunakan oleh Jean Charles Terrasier yang dipandang oleh Silverman bahwa pengertian disinkroni akan lebih ke arah pendekatan klinik. Perkembangan yang asinkroni yaitu berupa perkembangan yang tidak harmonis (uneven development) dalam hal kompleksitasnya, intensitasnya, tingkatan awarenessnya, serta sosialisasinya. Internal asinkroni adalah perkembangan individu cerdas istimewa yang mempunyai tingkat perkembangan yang berbeda antar berbagai aspek tumbuh kembangnya yang meliputi perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan perkembangan kemampuan lainnya. Internal asinkroni ini akan berakibat pula pada tingkatan perkembangan dirinya bila dibandingkan dengan anak usia sebayanya, maupun dengan anak yang dapat diharapkan seusia secara budaya. Dalam hal ini menurut Silverman antara konsep disinkroni dan asinkroni adalah sama, namun asinkroni akan lebih merupakan batasan konsep dalam menjelaskan berbagai facet tumbuh kembang anak-anak cerdas istimewa yang kemudian merupakan dasar-dasar pemahaman semua bentuk anak-anak cerdas istimewa.

3. Overexcitibility

Perkembangan dengan skala yang besar ini dikemukakan oleh seorang psikiater Polandia terkenal bernama Kazimierz Dabrowski yaitu The Theory of Positive Disintegration tahun 1960. Dalam teorinya itu Dabrowski menjelaskan tentang perkembangan yang overexcitibility berbagai aspek tumbuh kembang individu cerdas istimewa, yang meliputi aspek: psikomotor, sensual, intelektual, imajinasi, dan emosi (Webb dkk, 2005, Tolan, 1999). Dabrowski membicarakan perkembangan yang overexcitibilities (superstimulatibilities) yang dijelaskan dengan gambaran bahwa bagaimana seorang anak cerdas istimewa berkembang dalam kondisi yang sangat (ekstrim) sensitif dalam beberapa area. Ia mempunyai stimulus-respons yang sangat berbeda dengan norma normal. Hal ini berarti bahwa kelima area tersebut akan bereaksi lebih kuat dan lama daripada anak normal, sekalipun stimulus itu sangat kecil bentuknya. Hal ini bukan merupakan faktor psikologikal tetapi lebih kepada sensitivitas yang diatur oleh sistem susunan syaraf pusat (SSP). Kelima area itu adalah:

  • Psikomotor; Anak cerdas istimewa umumnya mempunyai perkembangan psikomotor yang besar, Selalu bergerak dan banyak enerji, cepat dan banyak bicara, serta membutuhkan jam tidur yang lebih sedikit daripada anak normal.
  • Sensual; Overexcitebilities sensual ini sering ditandai dengan “cut the label out of shirt” (menghendaki agar label baju digunting dan dibuang), menyukai hal-hal yang merangsang sensoris seperti misalnya tekstur, bebauan, rasa dlsb; tetapi juga bereaksi sangat kuat terhadap input sensory yang negatif (bau tidak enak, suara gaduh, dsb). Ia sangat sensitif terhadap cahaya, dan suara yang keras. Tetapi ia juga mempunyai kesadaran yang kuat terhadap estetika, kecantikan, keindahan, atau menangis mendengarkan lagu sendu.
  • Imajinasi; Perkembangan imajinasi yang besar ditandai dengan kemampuan berpuisi yang dalam dengan bahasa yang indah, selalu memimpikan sesuatu, kuat dalam berpikir visual, dan banyak menggunakan bahasa yang bermetaphora. Suka melamun, sangat ingat akan mimpi-mimpinya saat malam hari danbereaksi sangat kuat terhadap mimpi-mimpinya itu, sangat menyukai ceritacerita dongeng.
  • Intelektual; Perkembangan intelektual yang besar ini sering digunakan untuk keperluan pendifinisian giftedness, Anak dengan perkembangan “logical imperative”, yang suka dengan latihan otak dan puzzel, menyukai untuk mengikuti penjelasan yang kompleks serta menyukai berbagai penjelasan. Menyukai berbagai hal yang sifatnya akademik, informai terbaru, games yang merangsang otak, dan sebagainya.
  • Emosional; Selain ia mempunyai perkembangan emosi dengan intensitas yang kuat, ia juga mempunyai perkembangan emosi dengan range yang luas, dalam, sangat empathi dan mudah merasa iba.

4. Kinderen met ontwikkeling voorsprong

Perkembangan anak-anak cerdas istimewa telah banyak diketahui mempunyai perkembangan yang lebih cepat dari teman sebayanya (Silverman, 1995; Monks, 2000). Mönks (dalam Mönks & Ypenburg, 1995) menyebut anak berkecerdasan istimewa dengan perkembangan yang cepat mendahului teman sebaya itu sebagai anak yang mengalami lompatan perkembangan (kinderen met ontwikkeling voorsprong).

PERMASALAHAN PADA ANAK CERDAS ISTIMEWA

Perkembangan anak cerdas istimewa secara Sosial dan emosional dapat kita lihat sebagai berikut ;

Perkembangan Sosial: Si anak mengalami kesulitan bila harus melakukan kontak dengan anak lainnya, Dijauhi oleh teman-temannya, Mengganggu permainan atau pekerjaan teman lain, Banyak terlibat dalam perkelahian dan konflik, Sulit diajak bekerjasama, Sulit berbagi dengan teman lain, Sulit menerima pendapat orang lain, Suka mengolok, Sulit menerima kekalahan, Kurang mengambil inisiatif untuk kontak sosial

Perkembangan emosional ; Anak menjadi pendiam dan menarik diri, Takut menunjukkan dirinya, Takut bertanya dan takut menjelaskan sesuatu, Kurang percaya diri dan merasa tidak yakin, Menuntut banyak perhatian dari guru dan teman-temannya, Seringkali menjadi agresif terhadap anak-anak lain, Sulit turut dalam aturan permainan/peraturan dalam kelompok, Sedikit mengeluarkan perasaannya, Bereaksi secara ekstrim dalam kontak fisik, Tidak menikmati sekolah, Selalu bermasalah jika harus berangkat tidur, Kebiasaan yang khas yang selalu muncul (menggigit kuku, keras kepala tidak mau diberitahu), Menjadi brutal dan agresif, Hiperaktif dan banyak gerak , Pelamun, Tegang.

KECERDASAN ISTIMEWA DALAM KONSEP PENDIDIKAN

a. The Three Rings dari Renzulli

The Three Rings dari Renzulli (1978, 2005) ini banyak digunakan dalam menyusun pendidikan untuk anak cerdas istimewa, dan merupakan teori yang mendasari pengembangan pendidikan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (Gifted and Talented children) . The Three Rings dari Renzulli mengidentifikasikan bahwa giftedness terdiri dari tiga komponen yang penting, yang dapat memungkinkan terwujudnya prestasi istimewa dari seorang anak cerdas istimewa. Ketiga komponen itu adalah:

Kapasitas intelektual di atas rata-rata yang ditandai dengan IQ (skala Weschler) di atas 130.

Motivasi dan komitmen terhadap tugas yang tinggi.

Kreativitas yang tinggi.

Adapun model yang telah diperbaiki ini masih belum mencakup populasi anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (gifted and talented) secara menyeluruh. Pengidentifikasian di dalam dua dimensi, masih menisbikan populasi cerdas istimewa yang memiliki kesenjangan tinggi antara kemampuan dan performancenya. Anak tersebut berkemampuan khusus yang luar biasa tetapi memiliki prestasi yang rendah didalam kemampuan umumnya (underachiever). Termasuk juga anak-anak yang memiliki kesenjangan tinggi diantara domain kemampuannya berdasarkan testes standard IQ , achievement maupun aptitude dan ketidak sesuaiannya terlihat konstan antara ketimpangan kemampuan kognisi dan kemampuan adaptive dan prestasi di lapangan. Kategori-kategori ini masih belum memiliki tempat di dalam konsep The Three Rings Renzullli tersebut (Adinugroho-Horstman, 2007).

b. The Triadich dari Renzulli-Mönks

The Triadich dari Renzulli-Mönks adalah pengembangan dari The Three Rings dari Renzulli. Model Renzulli-Mönks ini disebut sebagai model multifaktor yang melengkapi The Three Rings dari Renzulli. Dalam model multifaktornya itu Mönks mengatakan bahwa potensi berkecerdasan istimewa (giftedness) yang dikemukakan oleh Renzulli itu tidak akan terwujud jika tidak mendapatkan dukungan yang baik dari sekolah, keluarga, dan lingkungan dimana si anak tinggal (Mönks & Ypenburg, 1995). Dengan model ini, maka pendidikan anak cerdas istimewa tidak dapat dilepaskan dari bagaimana peranan orang tua dan lingkungan dalam menanggapi gejala/sinyal berkecerdasan istimewa (giftedness),

Dengan begitu model ini lebih maju ke depan daripada The Three Rings Renzulli, dimana dengan menggunakan Triadich Renzulli-Mönks ini, maka akan terjadi penuntutan agar sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan dapat memberikan dukungan yang baik dan mengupayakan agar anak didik dapat mencapai prestasi istimewanya, sehingga diharapkan tidak akan terjadi adanya kondisi prestasi rendah (underachiever) dari seorang anak berkecerdasan istimewa. Dengan model pendekatan teori ini juga, maka anak-anak yang mempunyai gejala/sinyal-sinyal berkecerdasan istimewa atau giftedness (sinyal tumbuh kembangnya, sinyal personalitasnya, dan sinyal intelektualnya) sekalipun underachiever masih dapat terdeteksi sebagai anak berkecerdasan istimewa yang memerlukan dukungan dari sekolah, keluarga dan lingkungan agar ia dapat mencapai prestasi istimewanya. Dengan model pendekatan teori ini sekalipun menuntut perhatian yang besar terhadap berbagai komponen (sekolah, keluarga, dan lingkungan) untuk mendukungnya, namun model ini menjadi lebih fleksibel dalam melakukan pendeteksian dan pendiagnosisan anak berkecerdasan istimewa, terutama dalam mengahadapi anak-anak berkecerdasan istimewa dengan kondisi tumbuh kembang yang mengalami disinkronitas yang besar dan krusial, berkesulitan dan bergangguan belajar (learning difficulties & learning disabilities), serta yang mengalami komorbiditas dengan gangguan lainnya (gangguan emosi dan perilaku yang patologis). Fleksibilitas yang dimaksud adalah dalam upaya penggunaan daftar/list dan alat-alat ukur assessment (Hogeveen, 2004, Mönks & Pflüger,2005)).

c. The Munich Model dari Kurt Heller (Heller, 2004)

Study longitudinal tentang berkecerdasan istimewa (giftedness) yang disebut sebagai The Munich Study of giftedness adalah study yang berdasarkan pada klasifikasi psikometrik dengan beberapa tipe giftedness atau faktor talenta. Model ini disebut model multidimensional karena berisi tujuh kelompok faktor kemampuan yang relative independent. Kelompok faktor kemampuan ini disebut faktor predictors, yaitu inteligensia, kreativitas, sosial kompetensi, musik, artistic, ketrampilan motorik, dan inteligensia praktikal. beberapa domain kinerja (criterian variables) yaitu variable personalitas (misalnya motivasi), dan faktor lingkungan. Model ini juga mempunyai konsep bahwa giftedness juga mempunyai kaitan dengan faktor-faktor nonkognitif yaitu motivasi untuk berprestasi, pengontrolan terhadap harapan-harapan, dan bagaimana konsep diri si anak.

Model multifaktor dari Kurt Heller ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari Triadich Renzulli-Mönks dan Multiple Intelligence dari Howard Gardner. Namun bila Gardner menyebutkan faktor-faktor yang dibicarakan itu sebagai inteligensia (kecerdasan), tetapi Kurt Heller meletakkan berbagai faktor dari Howard Gardner tersebut sebagai bidang-bidang prestasi atau bidang-bidang ketrampilan (bukan kecerdasan, sebab Kurt Heller tetap mengacu tingkat kecerdasan dengan menggunakan psikometrik berdasarkan pemahaman inteligensia dari Piaget). Teori Multiple intelligence tidak memperhitungkan bahwa potensi berkecerdasan istimewa adalah dipengaruhi oleh faktor genetik sebagaimana konsep yang dikembangkan oleh Kurt Heller. Kurt Heller tetap berpendapat bahwa prestasi akan ditentukan baik karena adanya faktor-faktor individu dan bawaan (genetik) serta dipengaruhi pula oleh lingkungan. Kurt Heller tetap menggunakan konsep bahwa prestasi dipengaruhi oleh Nature + Nurture.

Model dari Kurt Heller ini kini mulai banyak digunakan oleh berbagai negara dalam rangka aplikasi di lapangan pendidikan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (Gifted and Talented Children) . Dengan Munich Model dari Kurt Heller pihak sekolah dapat dengan segera mengetahui bagian mana yang lemah dan bagian mana yang kuat pada seorang anak. Dengan menggunakan model ini akan dapat segera diketahui tindakan apa yang dapat diambil oleh pihak sekolah, orang tua, dan murid. Dengan model ini pula dapat ditentukan dengan segera program apa yang dapat diberikan pada murid untuk mengatasi kesulitannya agar ia mampu berprestasi secara istimewa.

MODEL PEMBELAJARAN ANAK CERDAS ISTIMEWA

Kelas reguler/inklusi dan kurikulum berdiferensiasi

Dalam laporan penelitian tiga bagian yang salah satunya adalah penelitian etateori yang dilakukan oleh T.Mooij dkk (2007) dari Centrum voor Begaafheid Onderzoek (pusat penelitian giftedness) Universitas Nijmegen – Belanda, memperlihatkan bahwa trend pendidikan anak cerdas istimewa secara mainstream kini lebih menyadari bahwa pendidikan untuk berbagai kelompok gifted ini lebih baik berada dalam sekolah atau kelas-kelas reguler bersama dengan anak-anak usia sebayanya. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak ini dapat melakukan kontak yang baik dengan peer grup atau sebayanya, guna pengembangan sosial emosional yang tepat yaitu pengembangan self-esteem yang baik serta self-concepts yang realistis. Disamping itu, anak-anak ini juga membutuhkan metoda tersendiri terutama ditujukan pada aktualisasi prestasi dengan pendekatan multitalenta (lihat teori multifaktor dari Kurt Heller), maka dalam kelas-kelas reguler kepadanya diperlukan kurikulum yang sesuai dengan level masing-masing serta adanya kurikulum berdiferensiasi. Bentuk sekolah atau kelas reguler yang menerima beragam keunikan anak, dan memberikan tawaran pedidikan sesuai dengan keunikan anak didik, disebut sebagai kelas atau sekolah inklusi.

Beragam kelas atau sekolah inklusi yang banyak dikembangkan oleh berbagai negara mempunyai beberapa keragaman. Sebagai misal, Norwegia yang telah memulai pendidikan melalui kelas inklusi sejak adanya reformasi pendidikan tahun 1994 yang meletakkan anak-anak gifted bersama beragam anak-anak berkebutuhan khusus lainnya seperti anak berkecerdasan kurang dan terbatas, cacat fisik primer, dan anak-anak normal. (Bentuk seperti ini biasa disebut full-inclusion). Bentuk sekolah atau kelas inklusi seperti ini membutuhkan tawaran pendidikan dengan banyak level atau komptensi. Namun negara Belanda meletakkan anak gifted dalam sekolah inklusi yang terbatas bersama 4 kelompok lainnya yaitu: penyandang ADHD, Autisme, learning disabilities dan anak normal. Berbeda dengan model yang dikembangkan oleh Norwegia, dalam Undang-undang pendidikan Belanda, sekolah reguler sebagai sekolah inklusi hanya menerima anak berkecerdasan normal ke atas, dan tidak bergangguan cacat primer. Bentuk sekolah seperti ini telah berdiri sejak tahun 1990 dengan nama program We Zijn Weer Samen Naar School atau Kita Kembali Sekolah Bersama-sama. Nama seperti ini diberikan karena semula anak anak berkebutuhan khusus tersebut dipisah diletakkan di sekolah-sekolah khusus. Bentuk pendidikan di Belanda kini lebih kepada pendekatan sistem kompetensi atau level, dibagi dalam 3 kompetensi, yaitu kompetensi atas, rata-rata, dan bawah. Dan juga lebih kepada pendekatan pendidikan yang adaptif (adaptive education), dimana materi pendidikan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi murid (Mönks & Pflüger, 2005, Dodde & Luene,1995 ) Maksud diadakan kurikulum berdiferensiasi bagi anak-anak gifted ini adalah (Mooij, 2007):

meningkatkan motivasi belajar anak didik

menghindari kebosanan dalam menempuh pelajaran

agar perkembangan anak menjadi lebih baik

Diferensiasi kurikulum bagi anak gifted dapat dibagi dalam 4 bentuk (Mooij dkk, 2007):

1. Pengkayaan (enrichment): yaitu berupa tawaran ekstra materi pelajaran yang dimaksudkan untuk pendalaman dan perluasan.

2. Pemadatan atau pemampatan (compacting): yaitu berupa pemampatan materi pelajaran reguler. Atau dengan kata lain bahwa pelajaran yang diberikan tidak perlu dilakukan pengulangan-pengulangan yang memang diperlukan sebagai latihan bagi anak-anak normal.

3. Paruh waktu (part-time) dalam kelompok-plus atau kelas-plus (pull-out): Dimana dalam kelompok/kelas itu diadakan ekstra aktivitas atau program yang menantang khusus untuk anak-anak gifted. Kegiatan dalam kelompok/kelas plus ini dilakukan beberapa jam dalam satu minggu. Bila anak-anak gifted tersebut membutuhkan kegiatan yang menantang guna memenuhi kebutuhan keberbakatannya, ia dapat sementara waktu keluar dari kelasnya (pull-out), masuk ke dalam kelompok-plus atau kelas-plus tersebut, bersama-sama dengan anak anak gifted lainnya dalam berbagai usia mengerjakan berbagai proyek yang diminatinya. Kelas-kelas seperti ini sering juga disebut Kangaroo-class.

4. Percepatan (acceleration): yaitu berupa lompat kelas (Class skipping). Namun percepatan ini membutuhkan beberapa pertimbangan berupa: kematangan sosial emosional, kapasitas intelektual, prestasi, adanya lompatan perkembangan didaktik, persetujuan orang tua, penerimaan guru

PERLAKUAN KHUSUS ANAK CERDAS ISTIMEWA

a. Psychoeducational assessment dan diagnostic

Dari penelitian-penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa dalam pelaksanaannya, terutama di sekolah dasar dan taman kanak-kanak, anak-anak gifted itu tidak bisa mendapatkan program pengembangan keberbakatan yang sama antara satu anak dengan anak lainnya. Hal ini selain disebabkan karena tumbuh kembang mereka sangat beragam yang umumnya masih sangat krusial, disamping juga kekuatan kemampuan atau bakat anak dari satu anak ke anak lain akan berbeda-beda. Diantara mereka masih banyak yang membutuhkan terapi remedial terutama di bagian perkembangan bahasa & bicara, perkembangan social emosional, dan perkembangan motorik halus. Karena itu program diberikan sefleksibel mungkin ke dua arah sekaligus, terhadap berbagai kekurangan melalui program remedial dan juga ke arah pengembangan keberbakatannya. Setiap anak yang membutuhkan perhatian khusus akan mendapatkan IEP (individual education program) yang dievaluasi dan dilakukan pembaharuan program setiap satu semester. Untuk ini semua, si anak memerlukan psychoeducational assessment and diagnostic, agar bisa ditentukan bentuk-bentuk intervensi apa yang cocok untuknya serta bentuk program pengembangan keberbakatan yang bagaimana yang cocok untuknya. Program akselerasi hanya diberikan kepada mereka yang memang mampu meraih prestasi yang sangat baik, mempunyai perkembangan social emsoional yang memadai jika diberikan akselerasi berupa lompat kelas, dan mempunyai perkembangan kemampuan didaktif yang memang sangat baik (Hoogeven dkk, 2004; Mooij dkk, 2007). Psychoeducational Assessment dan diagnostic seperti yang dibutuhkan seperti ini memang belum banyak dipelajari di Indonesia, karena itu orang tua sangat kesulitan untuk mencari sekolah yang memang menyediakan atau mempunyai jejaring dengan pusat pelayanan psychoeducational tersebut.

b. Mengutamakan keharmonisan

Dunia pendidikan masa kini adalah pendidikan yang meletakkan dasar-dasar keharmonisan tumbuh kembang. Pendekatan ini bukan hanya ditujukan bagi anakanak yang mengalami tumbuh kembang yang berbeda tetapi juga anak-anak yang mempunyai perkembangan yang sesuai dengan patokan tumbuh kembangnya. Terlebih kepada anak-anak gifted, yang mempunyai pola alamiah tumbuh kembang berbeda dengan anak-anak sebayanya, maka mau tidak mau pendidikan anak-anak gifted terutama di usia muda seperti di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, selayaknyalah jika keharmonisan tumbuh kembangnya justru menjadi perhatian utama. Karenanya lingkungan belajar sejak di usia dini dan sekolah dasar harus mampu memberikan tawaran pendidikan yang cukup sesuai dengan tingkatan perkembangannya. Dari berbagai penelitian untuk melihat seberapa jauh sudah tawaran pendidikan yang diberikan kepada siswa-siwa gifted, menunjukkan bahwa (Mooij, 2007):

Anak-anak gifted yang mendapatkan pendidikan dalam sekolah khusus atau kelas khusus akan menunjukkan prestasi pendidikan dan pengembangan kognitif yang baik, tetapi mempunyai self-concepts atau persepsi terhadap diri sendiri yang rendah.

Program percepatan hanya dapat diberikan kepada anak-anak gifted yang memang sudah mempunyai fungsi yang baik (secara kognitif, prestasi, dan sosial emosional).

Dalam program pengkayaan (enrichment), berbagai mata ajaran harus dikuasai terlebih dahulu, artinya kepada anak-anak gifted ini diperlukan program compacting mata ajaran reguler. Hal ini dimaksudkan agar dalam program pengkayaan dimana si anak melakukan pendalaman dan perluasan, ia sudah menguasai dasar-dasar teori terlebih dahulu.

Sejak dini sekali anak-anak gifted memerlukan pendidikan yang sefleksibel mungkin, individual, dukungan yang terus menerus secara pedagogis, sosial, emosional, kognitif, pengorganisasian proses pembelajaran, serta evaluasi dan pemantauan efek program yang diberikan kepadanya.

Umumnya sekolah-sekolah dalam memberikan program layanan kepada anak-anak gifted, lebih mendahulukan mata ajaran matematika (dan science) daripada pelajaran yang lebih mengutamakan bahasa. Karenanya justru seringkali akan memunculkan underachiever (prestasi rendah). Karena itu program berkemampuan bahasa juga perlu diberikan.

c. Pengembangan sekolah inklusi

Sekolah inklusi memang masih baru di Indonesia, namun diharapkan mampu mengatasi masalah terutama bagi anak-anak yang mempunyai inteligensia normal ke atas tetapi mempunyai hambatan dalam pembelajaran. Jika saja orang tua mendapatkan informasi yang berbeda-beda, akan bisa dimaklumi. Karena bentuk sekolah inklusi pun mempunyai keragaman juga. Orang tua bisa saja mendapatkaninformasi bahwa yang masuk sekolah inklusi hanyalah anak anak berkebutuhan khusus saja dengan berbagai masalahnya, atau dapat saja orang tua mendapatkan info bahwa arti inklusi adalah sekolah reguler/umum yang dapat menerima juga anak berkebutuhan khusus dengan inteligensia normal ke atas. Atau mendapat info bahwa anak berkebutuhan khusus apapun diagnosanya dengan inteligensia di bawah normal pun dapat turut belajar di kelas reguler. Ini memang cukup membingungkan bagi orang tua.

Pada dasarnya sekolah inklusi adalah sekolah yang menghargai individu dengan keunikannya dan menerima tawaran pendidikan yang adaptif. Dengan begitu tujuan inti pendidikan yang ditetapkan sampai seberapa jauh pendidikan yang harus dicapai, menjadi fleksibel. Fleksibilitas ini disebabkan karena pendidikan di dalam kelas menjadi multilevel. Setiap anak akan berada dalam levelnya yang disebut kompetensinya. Karena itu pendidikan dalam kelas inklusi bukan lagi berdasarkan konten (Content based curriculum) sebagaimana yang biasa diberikan dalam kelas reguler konvensional, namun pendidikan dalam kelas inklusi diberikan berdasarkan kompetensi (Competence based curriculum). Dalam menempuh pelajarannya seorang anak akan menempuh jalur pendidikannya dalam levelnya berdasarkan kompetensinya, dan dengan metoda pembelajaran yang sesuai dengan kondisinya (Crealock & Kronick, 1993). Kita ambilkan contoh seorang anak gifted yang mempunyai kekuatan dalam perkembangan kognitif tinggi (higher order thinking) yaitu pemahaman, analisa, sintesa, dan kemampuan memecahkan masalah yang didukung oleh kreativitasnya yang tinggi. Maka kepada anak-anak gifted ini tugas-tugas perlu diberikan dalam bentuk tugas yang mengutamakan kemampuan kognitif tinggi ini, serta tidak dilakukan pengulangan-pengulangan yang hanya akan memunculkan kefrutrasian karena seorang anak gifted sangat tidak tahan terhadap bentuk pengulangan dan drilling. Sementara itu karena kelemahan seorang anak gifted umumnya dalam kemampuan kognitif rendah (lower order thinking) seperti menghapal, maka kepadanya untuk kemampuan menghapal perlu diberi ekstra perhatian dengan menggunakan metoda permainan agar ia merasa fun dan tidak membebaninya. Sebaliknya seorang anak penyandang autisme, adalah anak-anak yang mempunyai keterbatasan dalam kemampuan analisa-sintesa, pemecahan masalah, dan kreativitas. Cara berpikir seorang anak penyandang autisme adalah sangat harafiah, dalam bentuk fragmen-fragmen atau potongan-potongan kejadian. Karena itu metoda pengajaran yang paling tepat baginya adalah bimbingan tahap pertahap dan sekuensial yang memerlukan pengulangan-pengulangan. Metoda yang diberikan ini adalah metoda yang sangat berlawanan dengan anak-anak gifted. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam bentuk sekolah seperti ini dibutuhkan deteksi, diagnosa psiko-pedagogi, dan skrining yang baik. Sekolah inklusi dengan diferensiasi metoda dan materi di dalam kelas, juga menuntut keikut sertaan orang tua dalam mensukseskan pendidikan. Dalam hal ini orang tua beserta lingkungan perlu dilibatkan secara aktif.

d. Education For All

Bagaimanapun, membangun pendidikan anak-anak Indonesia yang berslogan, tidak bisa hanya dengan setumpuk teori dan peraturan, tetapi memerlukan perjuangan mewujudkan tiang-tiang penyangga pendidikan yang menghormati hak asasi anak untuk mendapatkan pendidikan yang sebaik baiknya, menghargai keunikan masing-masing dan mengutamakan perhatian ekstra dan pendidikan pada anak-anak terutama anak-anak yang mempunyai resiko, sebagaimana Deklarasi Dakar tahun 2000. Tiang penyangga bagi tawaran pendidikan yang adaptif bagi anak didik adalah asesmen yang jelas yang dikerjakan oleh sejumlah profesi secara multidisiplin dalam sebuah lembaga bantuan pedagogi dan psikologi. Hal ini untuk menentukan bentuk pendidikan yang bagaimana yang dibutuhkannya, dan metoda apa yang diperlukan. Lembaga bantuan pedagogi dan psikologi (psychoeducational assessment center) ini adalah lembaga yang paling dekat dengan guru kelas, murid, dan orang tua. Di lembaga inilah diagnosa dokter diterjemahkan menjadi sebuah diagnosa pedagogi dan psikologi yang berbagai advisnya berupa metoda pengajaran bisa dilaksanakan oleh guru di dalam kelas saat mengajar membaca, berhitung, dan menulis, serta membina perkembangan sosial emosional murid. Lembaga ini selain memberikan bimbingan pada guru, tetapi juga kepada murid dan orang tua. Sayangnya alat ukur untuk menentukan bahwa seorang anak mengalami gangguan belajar bentuk ini belum dipunyai oleh Indonesia. Begitu pula berbagai terapi perilaku, emosi, sosial, dan remedi yang membutuhkan ilmu kedokteran dan kesehatan lainnya memerlukan bantuan dari sektor kesehatan. Dengan begitu sedikitnya ada tiga sektor atau departemen yang memerlukan kerjasama yaitu: Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, dan Departemen Sosial.

e. Hindari diagnosa yang spekulatif

Diagnosa yang spekulatif bagi anak-anak dengan kekhususan perkembangan ini, sangat marak ditemukan di lapangan. Umumnya terhadap anak-anak balita, saat mana berbagai symptom bermacam gangguan masih saling menutupi. Misalkan symptom gangguan perkembangan autisme sebetulnya adalah diagnosa pembanding gangguan perkembangan bahasa dan bicara ekspresif (reseptifnya baik). Gangguan perkembangan bahasa dan bicara ekspresif ini tidak pernah diikuti dengan gangguan autisme (Nyiokiktjien, 2005). Termasuk didalam gangguan bahasa dan bicara ekspresif ini adalah anak-anak gifted yang pada dasarnya mempunyai inteligensia tinggi kreatif dan sangat visual spatial learner. Seringkali terjadi, kedua kelompok anak-anak ini tidak dipisahkan, dan dimasukkan ke dalam diagnosa autisme. Diagnosa yang spekulatif ini terjadi karena tatalaksana diagnosa anak bergangguan perkembangan di Indonesia umumnya menggunakan tatalaksana yang: parsial dan tidak berkesinambungan, Tidak mengikut sertakan orang tua.

Autisme adalah sebuah gangguan perkembangan yang parah, hingga kini bidang kedokteran belum mendapatkan obat bagi gangguan perkembangan autisme ini. Psikostimulan yang diberikan hanyalah untuk mengendalikan emosinya yang labil. Karena itu anak-anak ini sering mendapatkan pengobatan alternative yang tak jarang pula radikal dan no proven serta merugikan (baik bagi anak secara fisik dan psikologis, tetapi juga biaya, dan emosi orang tua). Orang tua seringkali juga berpendapat, “Kalau memang baik …whay not?” Maka orang tua pun terlibat pada trial and error dalam pengobatan anak-anaknya tanpa ada lembaga perlindungan anak yang mampu membimbingnya. Sebaiknya apabila diagnosa itu meragukan maka perlu dilakukan second opinion dan pembahasan diagnosa pembanding atau differential diagnosis (jika perlu pada ahli lain) dan dilihat mana yang yang paling cocok, baru dibuatkan tatalaksana rencana penanganan. Membahas differential diagnosis juga diperlukan pengetahuan kedua diagnosa tersebut atau berbagai gangguan lainnya yang menjadi diagnosa pembandingnya. Guna menghindari diagnosa atau pelabelan yang spekulatif yang banyak terjadi ini, maka mau tidak mau semua profesi yang terlibat dalam tumbuh kembang anak, pendidikan, dan terapi bermacam gangguan, juga mempelajari personalitas dan pola alamiah tumbuh kembang anak-anak gifted.

f. Hindari psedo-ilmiah

Psedo-ilmiah atau pseudoscience ini kini banyak kita temui di pasaran bebas dengan mengatasnamakan pengasuhan (parenting) dan pendidikan. Umumnya berbahasa ilmiah tetapi menggunakan dasar pijakan yang mengesampingkan faktor bawaan atau genetik yang merupakan blue print dari perkembangan seorang anak. Dengan berkembangnya teknologi penciteraan otak dan penelitian perkembangan otak yang berkaitan dengan perkembangan inteligensia dan pendidikan, dunia pendidikan kini lebih menekankan pada pendekatan nature + nurture. Prestasi seorang anak akan senantiasa ditentukan oleh bagaimana nature biologisnya plus bagaimana nurture atau pengasuhan dan pendidikan dengan metoda yang tepat baginya. Semakin hari kini, kesadaran dunia pendidikan dalam upaya-upaya prevensi terhadap masalah kesulitan belajar menjadi semakin baik. Dunia pendidikan kini semakin pula menekankan pada school readiness (kesiapan bersekolah) dengan cara-cara menelusuri bagaimana tumbuh kembang seorang anak dan jika ternyata diketemukan seorang anak mengalami ketidak selarasan perkembangannya, segera diupayakan berbagai tindakan prevensi agar anak tersebut tidak mengalami kesulitan saat masuk ke sekolah dasar. Namun sebaliknya upaya-upaya prevensi ini seringkali dipopulerkan secara berlebihan melalui berbagai kegiatan yang tujuannya adalah menjadikan anak kita sebagai anak cerdas maupun jenius, tanpa memperhatikan lagi faktor kondisi bawaan seorang anak (Zigler dkk, 2002). Bentuk psedo-ilmiah ini bukan saja ramai dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam dunia kesehatan dengan menggunakan pendekatan pengobatan biomedical (megadosis vitamin, food supplement, dan berbagai mineral) untuk merubah biochemical dan smart drugs yang plasebo yang diharapkan dapat merubah struktur otak dengan maksud terjadi perbaikan inteligensia seorang anak. Diharapkan sekali pihak-pihak professional justru turut memerangi hal ini, serta membantu dan membimbing orang tua.

g. Meningkatkan peranan guru dan orang tua

Orang tua dan guru adalah figur-figur terdekat dari anak-anaknya atau murid-muridnya. Namun kedua figur ini mempunyai peranan yang sangat jauh berbeda sejak beberapa tahun belakangan ini. Hal ini seiring dengan perubahan pemahaman filosofi pengasuhan dan pendidikan anak. Jika dahulu kita mengenal bahwa anak lahir adalah sebuah kertas putih (tabula rasa) yang siap untuk ditulisi, maka pemahaman seperti ini sudah dinyatakan ketinggalan jaman. Pemahaman tabula rasa lebih menekankan pada faktor nurturing (pengasuhan dan pendidikan) dalam membesarkan anak-anaknya. Anak-anak dianggap sebagai kertas putih yang siap ditulisi, anak-anak bisa dicetak sebagaimana keinginan sistem pendidikan dan citacita orang tua. Kini orang tua dan guru dihadapkan pada model pengasuhan dan pendidikan yang menghargai keunikan dan tumbuh kembang anak. Karena itu mendidikan anak-anak masa kini bukanlah lomba balap agar anak menjadi super. Dalam menyikapi tuntutan pendekatan masa kini, orang tua dan guru dituntut mampu mendampingi tahapan tumbuh kembang anak yang unik, baik secara fisik, emosional, sosial, dan kognitif. Guru dan orang tua dituntut menciptakan lingkungan yang aman (lahir dan bathin, rasa cinta, dan relasi yang hangat) agar anak mampu tumbuh secara sehat. Guru dan orang tua dituntut agar mampu berjabat erat saling mendukung, agar antara pengasuhan dan pendidikan di sekolah merupakan bentuk kegiatan yang simultan, yang kesemuanya ditujukan bagi keharmonisan tumbuh kembang anak. Jalinan komunikasi dan pemahaman bersama ini tak kan mungkin bisa tercapai jika guru dan orang tak mempunyai pemahaman yang sama dan baik terhadap anakanak atau muridnya. Kerjasama yang baik antara guru dan orang tua, adalah andai kedua kelompok mampu mehamami karakteristik anak-anaknya dalam faktor-faktor: tumbuh kembang, personalitas, keberbakatan/berkecerdasan istimewa.

PENUTUP

Pendidikan untuk anak bangsa ini, bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Sekolah, tetapi juga menjadi tanggung jawab orang tua, keluarga, dan masyarakat. Sehingga pendidikan bagi anak cerdas dapat terfasilitasi dengan baik dan mendapat penanganan yang cepat. Karena dari mereka masa depan bangsa ini memperoleh harga diri. Berangkat dari berbagai persoalan dalam pendidikan bangsa ini yang kompleks harus ada terobosan untuk melakukan reformasi dan pembaharuan dalam pendidikan, sehingga pendidikan yang menjadi harapan semua orang dapat diwujudkan dalam realita, Semoga.

Kahlil Gibran, dalam Sang Nabi menuliskan syairnya;

“Anak Anda bukanlah anak Anda, Mereka adalah anak-anak kehidupan yang merindukan diri sendiri. Meskipun mereka datang melalui Anda, dan meskipun mereka bersama anda, mereka bukan milik anda.

Anda mungkin memberikan cinta, namun tidak pikiran anda, karena mereka memiliki pikiran sendiri. Tubuh mereka mungkin ada dirumah anda, namun tidak jiwa mereka, karena jiwa mereka tinggal dalam rumah masa depan, yang tidak dapat anda kunjungi, bahkan tidak dalam mimpi anda.

Anda boleh berusaha menjadi seperti mereka, namun jangan membuat mereka seperti anda. Anda adalah busur dari anak-anak anda, ditembakkan sebagai anak panah yang hidup. Relakan diri anda melengkung di tangan pemanah demi kegembiraan”.

DAFTAR PUSTAKA

Joan Freeman dan Utami Munandar, Cerdas dan Cemerlang; kiat Menemukan dan Mengembangkan Bakat Anak, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2000.

Mulyasa, Kurikulum Yang Disempurnakan; Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006.

Oemar Hamalik, Dasar – Dasar Pengembangan Kurikulum, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007

DR Julia Maria van Tiel , Adi D Adinugroho,MA dan Ir Ines Wuri Handayani , pedoman pendidikan anak cerdas istimewa (gifted children), Yayasan Adhi Purusa Jakarta Dit PSLB 2007.

DR.Julia Maria van Tiel, Orang tua anak cerdas istimewa (gifted child), Yayasan Adhi Purusa Yakarta, j.v.tiel@hetnet.nl, http://gifted-disinkroni.blogspot.com/